Tulisan 3: Pertarungan Banteng dengan Burung Rajawali di Jawa Tengah.
----------------------------------------------------------------------------------------
BPN Prabowo-Sandi ramai-ramai pergi ke Solo untuk menyiapkan kunjungan capres Prabowo yang akan mengadakan kampanye dan mendekati masyarakat di Jawa Tengah mulai tanggal 9 Pebruari 2019. Menurut survey internal mereka hanya kalah tipis dengan pertahana. Namun tidak dijelaskan secara gamblang berapa selisih angka pastinya. Hanya dijelaskan kubunya sudah memperoleh 43% suara di Jawa Tengah.
"Rapat itu untuk mempersiapkan berbagai agenda, memaksimalkan kampanye di Jawa Tengah, karena memang hasil survey internal, kita menang dibanyak daerah, tinggal tipis di Jawa Tengah dan kami memastikan di Jawa tengah juga menang" kata Dahnil.
Kubu Prabowo-Sandi memang berhasrat untuk meminimalisir kekalahan dalam pilpres 2014 dimana saat itu kubu Prabowo-Hatta mendapat suara 33,35% sedangkan kubu Jakowi-Jk mendapat suara 66,65%. Selisih suara yang cukup besar membuat tim sukses Prabowo-sandi memindahkan pos pemenangan dari Jakarta ke Solo. Tempatnya pun tidak main-main yaitu dekat dengan rumah presiden Jakowi dan keluarganya. Satu pos dibangun dekat rumah Jakowi dan pos yang lainnya dekat warung Markobar milik Gilbran putra Jakowi. Seandainya Jan Ethes cucu Jakowi sudah sekolah di PAUD maka pos pemenangan barangkali juga akan dibangun dengan PAUD.Ha..Ha...
Beberapa hari sebelum kedatangan Prabowo di Jawa Tengah telah terjadi teror kain api seperti yang terjadi di kota Semarang. Mobil dan sepeda motor jadi sasaran serangan oleh pelaku yang menyerang tengah malam dan menjelang subuh. Serangan tersebut kini meluas sampai kota Kendal dan Ungaran. Dari penyelidikan pihak kepolisian ternyata korban tidak memiliki musuh dan tidak ada harta benda yang hilang. Indikasinya mengarah ke teror pada masyarakat. Pola ini sama persis dengan pola di
masa Orde Baru. Masyarakat ditakut-takuti agar mereka resah dan gelisah namun tidak mendesah. Apakah pola Orde Baru ini telah diadopsi dan dimainkan kembali oleh pihak oposisi? Entahlah.
Masyarakar Jawa Tengah sudah pintar membaca pola kampanye pihak oposisi yang penuh denagn kontroversi dan hoax. mereka melakukan perlawanan dengan caranya sendiri. Seperti saat kunjungan Sandi ke Wonogiri, Pati, Juwana dan Rembang rakyat berdiri di pinggir jalan dan meneriakan yel yel dukungan bukan kepada Sandi tapi kepada Jakowi saat Sandi dan timnya melintas di jalan raya. Fenomena ini yang bikin Sandi dan timnya sesak napas.
Perlawanan kaum elit bakal dilakukan 1-2 dua bulan menjelang pilpres 2019 untuk mendongkrak suara Jakowi. Sudah ada 31 Bupati yang siap mendukung Jakowi dan berkampanye di daerahnya masing-masing. Mereka telah bertemu dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.Bahkan Gubernur Ganjar Pranowo siap mengajukan cuti kerja untuk all out kampanye demi kemenangan Jakowi. Perlu diketahui Ganjar Pranowo dan Jakowi sama-sama berasal dari satu partai yaitu PDIP. Saat pilpres 2014 tidak ada dukungan Bupati baik kepada kubu Jakowi maupaun Prabowo sebab saat itu keduanya bukan pertahana dan berjuang merebut kursi Presiden.
Menurut survey Denny JA tanggal 4-18 Oktober 2018 PDIP memperoleh suara 46,0%, PKB [4,8%], Golkar [4,2%] dan PPP [3,5%]. Coba bandingkan dengan kubu oposisi seperi Gerindra [6,2%], PKS [1,3%], PAN [1,2%] dan Demokrat [0,7%]. Saat pilpres 2014 Golkar dan PPP berada di kubu oposisi dan kini di pilres 2019 mereka bergabung di kubu pertahana. Kita harapkan mesin partai kubu pertahan aktif dan hidup selama kampanye sehingga akan membuat perolehan suara Jakowi melonjak naik sehingga bisa menang besar.
Sebagian besar masyarakat Jawa Tengah tinggal di pedesaan. Secara prosentase bisa dikatakan 70% dan hanya 30% yang tinggal di perkotaan. Profesi mereka adalah petani, buruh dan nelayan sehingga isu-isu sensitif menjelang pemilu yang berkaitan dengan biaya hidup dan BBM. Harga BBM sudah pasti tidak ada kenaikan menjelang dan saat pilpres sehingga tidak bisa digoreng sampai garing. Begitupun dengan harga sembago berkat adanya satgas pangan harga sembago aman dan terkendali.
Hanya segilintir oknum tengkulak nakal yang kemarin berbuat ulah dengan menurunkan harga cabai ditingkat petani. Gubernur Ganjar Pranowo mengantisipasi dengan mewajibkan PNS di Jawa Tengah untuk membeli capai sebayak 10 ton dengan total harga 200 juta.Akhirnya harga kembali stabil.
Kalau melihat peta dukungan untuk pertahana di Jawa Tengah maka sulit bagi oposisi untuk mengalahkan pertahana di Jawa Tengah.Jawa Tenngah tetap menjadi kandang banteng dan burung Rajawali bakal kalah dan terbang jauh sambil meratapi kekalahannya.
#TetapJakowi
No comments:
Post a Comment